A�HASIL KAJIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

Dalam setiap kegiatan, LPP Mangrove selalu mengedepankan opini atau pendapat berdasarkan kajian ilmiah termasuk keanekaragaman hayati.A� Ada beberapa contoh kajian keanekaragaman hayati yang dilakukan oleh LPP Mangrove antara lain : kajian flora fauna pada tahun 1997/1998 di Cilacap, 1999/2000 di Suaka Margasatwa Muara Angke, 2004 di Bengkalis, dalam rangka penyusunan Rencana Pengelolaan Mangrove, dan Survey Flora dan Fauna di Batu Ampar, Kalimantan Barat tahun 2007 (sudah dipublikasikan).

Hasil Kajian Flora dan Fauna di Batu Ampar, Kalimantan adalah Sebagai Berikut :

Kesimpulan hasil studi identifikasi kondisi lingkungan, inventarisasi flora dan fauna, yang dilaksanakan di Demosite Mangrove Batu Ampar adalah sebagai berikut :

  1. Berdasarkan hasil identifikasi lapangan, kondisi lingkungan mangrove Batu Ampar masih cukup baik. Hal ini juga tergambar dari kualitas perairan di wilayah studi memiliki kategori baik (skor 4) (Fandeli, 1995 : 182).
    jenis1
  2. Jumlah jenis flora yang ditemukan selama inventarisasi ini adalah 50 jenis baik true mangrove spesies, mangrove associate, ekoton maupun terresterial. Dari ke-50 jenis tersebut 31 jenis vegetasi ditemukan di dalam plot, dan 19 jenis lainnya di luar plot pengamatan.
  3. Secara keseluruhan, kerapatan vegetasi jenis Rhizophora apiculata memiliki kerapatan tertinggi jika dibandingkan dengan jenis lainnya baik pada tingkat pertumbuhan semai, pancang dan pohon.
  4. Potensi pohon rata-rata hutan mangrove berdasarkan posisi transek pada bagian kiri sebesar 178.46 m3/ha dan sebelah kanan sebesar 183.52 m3/ha. Jika dilihat berdasarkan jenis vegetasi, maka jenis yang memiliki potensi pohon tertinggi adalah Rhizophora apiculata (128.13 m3/ha) yang ditemukan di transek sebelah kanan dan 114.45 m3/ha pada transek sebelah kiri dan Bruguiera gymnorrhiza (40,35 m3/ha). A�Sedangkan potensi kayu menurut transek menunjukkan bahwa pada transek 4 (Hutan Lindung Pulau Panjang 4) memiliki potensi kayu tertinggi yaitu sebesar 350,11 m3/ha dan transek 18 (Hutan Lindung Selat Syeh) sebesar 341.63 m3/ha.
    jenis2
  5. Hasil perhitungan Indeks Keanekaragaman Jenis (Ha��) untuk vegetasi menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman bervariasi antara rendah dan cukup tinggi. Kategori dengan cukup tinggi dapat dilihat pada transek 14 untuk strata pohon (kanan dan kiri) serta untuk pancang pada transek 6.
  6. Transek 14 mempunyai nilai kesamaan yang rendah jika dibandingkan dengan transek lainnya. Hal ini disebabkan transek 14 di Gunung Terjun sebagian plot yang diambil mengarah kepada ekoton dan terrestrial.
  7. Jika dilihat dari sebaran kelas diameter, maka diameter 10 a�� 20 cm mempunyai kerapatan tertinggi, sedangkan jika dilihat berdasarkan kelas tinggi maka kelas tinggi 10 a�� 15 meter mempunyai kerapatan tertinggi.
  8. Kawasan demosite Batu Ampar memiliki keanekaragaman jenis fauna/satwaliar yang tergolong sedang. Teridentifikasi 11 jenis mamalia, 57 jenis burung, 10 jenis reptilia dan 1 jenis amphibia terkait dengan ekosistem mangrove Batu Ampar. Jenis Burung merupakan fauna/satwaliar yang mudah ditemukan dibandingkan dengan jenis satwaliar dari kelas yang lain.
  9. Jenis fauna/satwaliar yang terkait dengan ekosistem mangrove dari mamalia adalah Bekantan (Nasalis larvatus), sedangkan jenis-jenis burung yang hidup secara khusus pada ekosistem mangrove (Mangrove specialis) yaitu; sikatan bakau (Cyornis rufigastra), kancilan bakau (Pachycephala grisola) dan Burung madu Bakau (Nectarinia calcostetha). Selain itu juga terdapat beberapa jenis reptilia yang sangat terkait dengan ekosistem mangrove (Mangrove specialis) yaitu ular cicin emas (Boiga dendrophylla) dan kadal mangrove (Emoia atrocostata).
  10. Jenis-jenis burung migran yang menggunakan areal demosite mangrove Batu Ampar, sebagai jalur maupun tempat singgah yaitu Sikep madu (Pernis ptilororhynchos) sebagai jenis elang migran (Raptor migratory species), Trinil pantai (Tringa hypoleucos), dan Dara laut kumis (Chlidonias hybridus) sebagai burung pantai migrasi (Wader bird), layang-layang api (Hirundo rustica), Kedasi Australia (Chrysococcyx basalis), Murai Tarung (Monticola solitarius), dan Sikatan Bubik (Muscicapa dauurica).
  11. Adapun biota air, zooplankton yang ditemukan di lokasi pengamatan di kawasan demosite Batu Ampar berkisar antara 15-18 jenis. Lokasi pengamatan yang memiliki kelimpahan zooplankton terbanyak adalah Pulau Nipah Panjang dengan jumlah jenis zooplankton (5 jenis), sedangkan terendah di Sungai Sepada Kiri dan Sepada Kanan dengan kelimpahan zooplankton 650 ind/m3. Indeks keanekaragaman zooplankton pada lokasi pengamatan berkisar 0 sampai dengan mendekati 2. secara umum tergolong memiliki Indeks keanekaragaman rendah. Untuk nilai keseragaman lokasi pengamatan terendah 0,3 pada lokasi pengamatan Sungai Kemuning Hilir dan indek keseragaman tertinggi 1,1 yaitu pada lokasi pengamatan Pulau Panjang IV.
  12. Komunitas benthos berdasarkan hasil analisis laboratorium terdapat 15-18 jenis. Lokasi pengamatan yang memiliki taksa benthos yang banyak yaitu pada lokasi Sukamaju dan Pulau Dabung. Sedangkan lokasi yang memiliki taksa benthos sedikit adalah pada lokasi pengamatan Pulau Panjang 1 (taksa 1).
  13. Krustase yang berhasil dikumpulkan ada 12 jenis udang dan 8 jenis kepiting. Untuk nilai Indeks keanekaragaman jenis krustase dari stasiun pengamatan berdasarkan kriteria indeks Indeks keanekaragaman semua lokasi pengamatan memiliki keanekaragaman jenis krustase rendah. Demikian juga dengan jenis moluska, Indeks keanekaragaman jenis moluska masih rendah.
  14. Jenis ikan yang diperoleh dari hasil penelitian meliputi 2 kelompok, yaitu ikan sungai dan ikan laut. Jenis-jenis ikan sungai tersebar di stasiun pengambilan sampel di sungai-sungai sedangkan ikan laut dari stasiun pengamatan di muara sungai dan laut. Dari 18 stasiun pengamatan diperoleh 64 spesies ikan. Indeks keanekaragaman jenis ikan tergolong sedang pada lokasi pengamatan Sungai Seruat dengan nilai keanekaragaman 3,3.
  15. Potensi biomassa total per hektar berkisar antara 227,45 ton/ha sampai 316,88 ton/ha atau rata-rata sebesar 262,86 ton/ha. Tingginya kandungan biomasa tersebut, disebabkan karena sebagian besar kawasan hutan mangrove Batu Ampar masih terjaga dengan baik, hanya di beberapa tempat yang kandungan biomassanya yang relatif masih rendah. Tingginya kandungan biomassa ini juga menunjukkan bahwa hutan mangrove Batu Ampar memiliki peran strategis dalam keseimbangan iklim global, terutama kaitanya dengan penyediaan unsur vital makhluk hidup yaitu oksigen dan penyerapan senyawa CO2 dari atmosfer.

Hasil kajian flora dan fauna tersebut dapat diakses di Perpustakaan LPP Mangrove Bogor.

A�lpp-bogor1 lpp-bogor-2

 

imred